Selasa, 30 Juni 2009

Belajar Menulis Di Atas Pasir

Dari Milist Sebelah :


Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan meintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar,san salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasakan sakit hati, tapi dengan tanpa kata2 dia menulis diatas pasir, “ hari ini sahabat terbaikku menampar pipiku”

Mereka terus berjalan sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil di selamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulaisiuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis disebuah batu, “ hari ini sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku “
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya tadi pertanya “kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulsinya diatas pasir? Dan sekarang kamu menulis diatas batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab.”ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan meghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita agar tidak bisa hilang tertiup angin”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menuluis diatas pasir yang belum tercampur semen tentunya.

Minggu, 28 Juni 2009

Mandikan Aku Bunda..........

Dari milist sebelah :


Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya.

Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.

Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.

Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu,
tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian
lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpankomitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.


 Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
 Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
 Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.
 Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

Rabu, 10 Juni 2009

6 Tahun Yang Lalu

6 tahun.......



Banyak hal yang kami lalui bersama
" Keluarga Besar Kendho Solo "


Di depan Basecamp Kendho Pala, Persiapan di mo ke Lawu


Turun Gunung Merapi


Kendho Pala, JeckBoy, Muthil, Ecko, ConkCui, Junet, Susiloa, Surrone.


Acktion in Lawu


KBKS ( Keluarga Besar Kendho Solo )


" Subkhanallah...." Begitu sempurnanya Ciptaan Allah SWT....


Happy New Year....


Crew Girl IMKA


Crew Boyz IMKA


Happy B'Day inthe X urang...


Kebersamaan Crew IMKA

Kedamaian Hati, Kedamaian Sejati


Moga bermanfaat :


Seorang raja mengadakan sayembara dan akan memberikan hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukiskan tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya dua likusan yang benar-benar paling disukainya, tetapi sang raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang, permukaan telaga yang itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung2 yang tenang menjulang mengitarinya. Diatasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak arak. Semua yang memangdang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pengunungan juga, namun nampak kasar dan gundul diatas terlukis langit yang gelap dam merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar nyambar liar. Disisi gunung ada air terjun deras berbuih buih, sama sekali tidak menandakan ketenangan dan kedamaian, tapi sang raja melihat sesuatu yang menarik, dibalik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Didalam semak2 itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya, jadi ditengah tengah riuh tendahnya air terjun, seekor induk pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Bener-bener damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?
Sang raja memilih lukisan nomor dua...........


Tahukah anda mengapa?
Karena jawab sang raja
“ kedamaian bukan merarti anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk.
Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamian sejati”

Senin, 08 Juni 2009

Membahagiakan Ayah & Ibu


Bahkan seorang anak berusia
7 tahun melakukan yang terbaik untuk........


Di sebuah kota California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar Bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama little league. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan,ia lebihbanyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir disetiap pertandingan untuk bersorak danmemberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti carita dalam buku-buku roman.namun, keadaan itu hanya berlangsung sampaipada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun.

Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu,ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasanya dilakukannya pada malam hari.

“ Aku tidak akanmenikahlagi,” kata Sherri kepada ibunya. “ tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia”. “ kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda danselalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istinewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka Pergi, akan lebih baik bagi yag ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya.

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidaksendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke.apapun masalah yang dihadapi anaknya,Sherri selalu memberi dukungan sehingga Luke akan selalu berdikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak – sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “ Pelatih”, panggilnya. “ Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini penting bagiku. Aku mohon?”.

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke.luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportifitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalambeberapa hari ini.

“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian di tariknya topi merah Luke. “ Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang,lakukan pemanasan dahulu.” Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu,ia bermain dengan seenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run danmencetak dua single, Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menatik Luke ke pinggir lapangan. “ pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?”


Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air maata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan,ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu..........ibuku meninggal.” Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya,dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “ hari ini,............hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidakakan mengecewakan mereka.................”. Luke kembali mengangis terisak-isak.



Sang pelatih sadah bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hati ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untukmenenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-toba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, ait mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..............

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bakwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bakhan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya..................Luke baru saja kehilangan seorang ibu yang begitu mencintainya................


Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya m,asih ada, saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya, membahagiakan mereka. Membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.................


Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah
Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN

Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibu kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ayah dan ibu, dengan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi dan hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga dengan kita. Bukaanya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaanya mereka yang terbesar. Bakhan seorang anak yang berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya walau mereka sudah pergiuntuk selama-lamanya.
Bagaimana dengan anda? Berapakah usia anda saat ini??
Apa yang telah kita berikan kepada orang tua kita selama ini??

Minggu, 07 Juni 2009

Pengorbanan Seorang Ibu


Semoga bermanfaat ;



Pada suatu hari terlahirlah seorang anak perempuan yang sangat mungil, lucu, imut ......
lahir dari keluarga yang sangat sederhana dengan kelahiran bayi tersebut cukup sudah penantian seorang janda yang di tinggal suaminya.
Dirawatlah bayi tersebut dengan penuh rasa kasih sayang seorang Ibu. hari demi hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun bayi tersebuh tumbuh dewasa dengan wajah yang begitu cantik. dengan wajah yang di milikinya itu membuat gadis tersebut bahagia, tapi kebahagiannya itu dia selalu di ejek oleh temen2 di sekolahnya. disekolah gadis itu pandai selalu mendapatkan hasil yang bagus, tapi oleh teman - temannya dia selalu di ejek bahwa walaupun dia cantik, pintar tapi sayang dia anak dari seorang janda yang buta.
di setiap harinya gadis itu selalu di ejek, dimanapun ia berada bahwa ia anak dari janda yang buta. dengan keadaan seperti itu gadis tadi menjadi pemarah benci kepada ibunya mengapa ia di lahirkan oleh seorang wanita yang buta.
Setelah beranjak dewasa gadis tersebut kabur dari rumah pergi ke Ibu kota. di sana ia bercita - cita menjadi seorang artis. dengan berbagai cara akhirnya gadis tersebut tercapai keinginannya menjadi artis terkenal ibu kota.
Di desa yang di tinggalkannya tersebut seorang ibu yang buta mendengan kabar yang membahagiakan, bahwa anaknya selama ini yang kabur dari rumah telah berhasil dalam hidupnya. hidup di ibu kota dengan kekayaannya yang semakin melimpah.
Suatu saat ibu buta tapi kangen dengan anaknya. di suruhnya seorang teman semasa kecil gadis tadi untuk menyampaikan keinginan ibunya bertemu dengannya. berangkatlah teman tadi ke ibukota untuk mencari artis tadi, dengan susah payah akhirnya ketemu dan menyampaikan amanah dari ibu yang menunggu nan jauh disana.
Teringat akan keadaan ibunya gadis tadi marah, tidak mengakui ibu tersebut karena kebutaannya. dia takut kalau pamornya jatuh hanya karena ibunya buta. di usirnya teman tapi di suruh balik ke kampung untuk mengabarkan kepada ibunya bahwa ia tidak sudi mempunyai seorang ibu yang buta. hari berganti hari bertambah sukses gadis tadi menjadi artis. tetapi di tempat yang jauh di sana seorang ibu jatuh sakit karena teringat akan anak gadisnya yang tidak mau mengakui bahwa ia adalah ibunya. teman tadi berangkat lagi ke Ibukota untuk mengabari bahwa ibunya jatuh sakit dan ingin bertemu dengannya, tapi ia tetap kukuh tidak mau pulang dan tidak mengakuinya. pulanglah teman tapi dengan hasil yang nihil.
Suatu saat di desa tempat asal artis tadi diadakan reuni untuk SMAnya dengan hati yang sangat berat artis tadi datang menghadiri reuni tersebut, mendengar kabar bahwa artis tadi mau pulang ke kampung halamannya ibu buta tadi bertambah parah sakitnya dan menyuruh seorang teman untuk menemui artis tersebut untuk menyampaikan bahwa ibunya bertambah parah.
namun, artis tersebut tetep pada pendiriannya yaitu tetap tidak mengakui bahwa ia ibunya.
kembalilah seorang teman tadi menghadap seorang ibu yang buta disampaikanya apa yang terjadi pada artis tersebut, ibu buta tadi sudah tidak kuat menahan sakitnya dan diakhir hidupnya dia sempet mengambil sebuah peti kecil dan disampaikannya ke seorang teman berpesan tolong sampaikan peti kecil ini ke artis tersebut dan jangan dibuka oleh orang lain harus di buka sendiri oleh artis tersebut.
sampailah peti kecil tersebut di tangan artis yang sombong itu. di dalam kamar penginapan yang ia sewa dengan tangan yang bergetar di bukannya pelan - pelan peti kecil itu
di dalam peti ada secarik kertas dan foto - foto.
dari isi surat tersebut
" Anakku, beberapa tahun yang lalu kamu lahir dengan selamat, semuanya bergembira dengan kelahirannmu. tapi sayang ada kekurangann pada dirimu kamu tidak mempunyai sepasang mata. dengan keikhlasan ibu, ibu berkorban untukmu, ibu korbankan mata ibu untukmu sayang.. setelah besar jadilah anak yang berguna bisa membantu ibu yang seorang janda ini.
ini juga ada foto - foto sewaktu kamu lahir dan waktu ibu operasi untuk mengambil mata ibu untukmu......"
belum selesai artis tadi membaca surat tersebut dengan surat masih di tangan lemaslah gadis itu dan menjerit sangat kerasnya. ternyata mata yang selama ini dia pake adalah mata seorang ibu......
Dengan hati yang masih kacau campur aduk rasanya gadis itu berlarian mencari alamat ibunya ....
setelah sampai di sebuah rumah yang mana sudah banyak orang di sana dan dipasanglah beberapa bendera berwarna merah, setelah masuk rumah didapatinya jenazah yang sudah berkafan...

Bagi temen - temen semua yang masih mempunyai seorang Ibu, berbuatlah apa sajalah untuk membahagiankan ibu kita dan juga ayah kita.....

Jumat, 05 Juni 2009

Keluarga Besar Kendho Solo

maap blm da isinya....

Da yg mau ngisi g, terutama kendho boys yg aktif

Banyak lo Organisasi Kendho

1. Kendho Boys
Kendho Boys di sematkan kepada semua anggota Keluarga Besar Kendho khususnya bagi yang laki - laki

2. Kendho Girl
Kendho Girl di sematkan kepada semua anggota Keluarga Besar Kendho khususnya bagi yang Peyempuyan

3. Kendho Pala

4. Kendho Yo Band
5. Islamic Kendho
6. Gang Kendho
7. Kendho FM
8. Tabloid Kendho News
9. Kendho Comp
10. Kendho Cell
11. Apartement Kendho

Selasa, 02 Juni 2009

Sebuah Ketulusan

Dari milist sebelah :



Ini suatu kisah nyata, pada suatu ketika ada seorang pemuka agama miskin berinisial nama R.A yang memiliki kakak seorang milyuner.

Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual
padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu si kakak menjadi kaya raya. Setelah itu kakak tersebut menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar.

Kini dia tinggal di apartemen mewah di
New York dan memiliki kantor di Wallstreet. Pada akhir tahun, kakaknya menghadiahi adiknya sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.

Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobil tersebut dengan penuh kekaguman.

"Hai.. nak" sapa R.A.

Anak itu melihat padanya dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?"

"Ya," jawab R.A singkat.

"Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?" Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam, "Seandainya....seandainya...."

R.A mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu.

"Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku."

Ternyata R.A salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: "Seandainya...
seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu....."

Dengan masih terheran-heran R.A. mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.

Sampai satu kali anak itu berkata,"Tuan bersediakah mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini".

Sekali lagi R.A. mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.
"Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil
mewah
." pikirnya.

"OK, mengapa tidak", kata R.A. sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada R.A. untuk berhenti sejenak,
"Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali". Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot.

Setelah menunggu hampir sepuluh menit, R.A. mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu.

Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah
tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya:

"Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat R.A tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu. Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku "Stories for the family's heart" by Alice Gray