Kamis, 02 Juli 2009

Garam dan Telaga....

Dari Milist Sebelah :


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang baik. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air, ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya......”, ujar pak tua itu.

“ pahit, pahit sekali.” Jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu megnajak tamunya ini untuk berjalan ketepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelobang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “ coba ambil air dari telaga itu, “ pak tua berkata “ bagaimana rasanya?”

“ segar.”, sahut tamunya. “ apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya pak tua lagi. “ Tidak”, jawab si anak muda .

Dengan bijak pak tua itu menepuk nepuk punggung si anak muda , ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu,” anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, jumlah dan rasanya pahit itu adalah sama dan memaang akan tetap sama “. “ tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita milik. Kepahitan itu akan didasarkan dari peraqsaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita,
Jadi saatkamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu “

Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “ hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadika hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan,”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu dan pak tua si orang bijak itu kembali menyimpan “ segenggam garam” untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar