Rabu, 15 Juli 2009

Meredam Kemarahan ( Cerita Se Ekor Kepiting )

Dari Milist Sebalah :


Anda suka kepiting??? Atau tidak suka kepiting??? Atau suka kepiting tetapi tidak mau makan kepiting????

Cerita teman saya ini sebaiknya anda baca, karena cocok bagi yang suka kepiting maupun yang tidak suka kepiting termasuk juga cocok bagi yang tak mau kepiting.......

Beberapa tahunyang lalu, kalau tidak salah tahun 1986,saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing kepiting...

Bagaimana cara memancing kepiting?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang kami incar, kami mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka kepiting itu akan menggigit tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami ini dengan air mendidih karena di bawah wajanitu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati kepiting rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korman santapan kami karena mekarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : “ Marah “

Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakuka penundaan dua tiga detik dengan menarik nafas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda

Selasa, 07 Juli 2009

Pelajaran Hidup --> Cerita Tentang Katak Kecil

Dari Milist Sebalah :



Pada suatu hari ada segerombol kata – katak kecil,............
Yang menggelar lomba lari,........tujuannya adalah mancapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.

Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara uantuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta..

Perlombaan dimulai...........
Secara jujur......: tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara itu


Terdengar suara :
“ Oh, jalannya terlalu sulitttttttt?!” Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak “


atau : “ tidak ada kesempatan untuk berhasil.........Menaranya terlalu tinggiii....!

Katak2 kecil mulai berjatuhan, satu persatu.......
..............kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan lahan semakin tinggi...........dan semakin tinggi

Penonton terus bersorak
“ Tterlalu sulitt!!! Tak seorang pun akan berhasil!!”

lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah...........
..............tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggii........
Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katakkecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!’

SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya.............?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata :.....

Katak yang menjadi pemenang itu TULI !!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah :
“ jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderugnan negatif ataupun pesimis.....
.............karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu...

Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada
Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengarui perilakumu!

Karena itu :
Tetap selalu ............ POSITIVE ...............


Dan yang terpenting

Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu!

Selalu berfikirlah :......! can do this

Kirim pesan ini kepada minimal 5 temanmu. Berikan meraka motivasi, karena teman yang baik adalah teman yang bisa saling memebri motivasi satu sama lain.

Kamis, 02 Juli 2009

Garam dan Telaga....

Dari Milist Sebelah :


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang baik. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air, ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya......”, ujar pak tua itu.

“ pahit, pahit sekali.” Jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu megnajak tamunya ini untuk berjalan ketepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelobang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “ coba ambil air dari telaga itu, “ pak tua berkata “ bagaimana rasanya?”

“ segar.”, sahut tamunya. “ apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya pak tua lagi. “ Tidak”, jawab si anak muda .

Dengan bijak pak tua itu menepuk nepuk punggung si anak muda , ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu,” anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, jumlah dan rasanya pahit itu adalah sama dan memaang akan tetap sama “. “ tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita milik. Kepahitan itu akan didasarkan dari peraqsaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita,
Jadi saatkamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu “

Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “ hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadika hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan,”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu dan pak tua si orang bijak itu kembali menyimpan “ segenggam garam” untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.