Sabtu, 30 Mei 2009

Kenangan


4 tahun lalu rasa kebersamaan begitu terasa.......

4 tahun lalu merupakan peristiwa di mulainya hidup baru.....

4 tahun lalu banyak yang berpengaruh di dalam diri kita....

Senin, 18 Mei 2009

Tips Menggunakan Facebook

Dari milist sebelah
"Tips pakai Facebook"

Walaupun saya setuju dengan pemakaian Facebook, tapi saya ingatkan
rekan-rekan untuk berhati-hati karena seperti MySpace dan juga
jaringan social network lainnya, Facebook saat ini "diserbu" oleh
orang-orang jahat dan jahil. Berikut beberapa kasus di internet
akhir-
akhir ini yang perlu kita waspadai:

1. Facebook saat ini mulai digunakan untuk menipu (sebagaimana juga
e-mail). Salah satu modusnya adalah sepertinya seorang sahabat minta
bantuan uang. Karena bentuknya berbeda dengan penipuan di e-mail,
maka beberapa orang bisa terkecoh.

2. Facebook saat ini relatif mudah untuk dimasuki oleh Spyware.
Bentuknya sering tidak tersangka-sangka karena tampak mukanya
mirip aplikasi facebook.

3. Seperti e-mail, Facebook sekarang juga mulai diserbu oleh Spam.

4. Facebook ternyata sangat terbuka. Banyak pemakai lupa bahwa apa
yang ditulis oleh salah seorang "teman" kita, bisa juga terbaca
oleh semua "teman-teman" kita lainnya (ini tidak ada di aplikasi
e-mail). Sehingga terjadi kasus-kasus salah pengertian seperti
kasus di Koran terkemuka New york post. Seseorang bisa tahu tentang
diri kita dengan melihat membership kita dalam berbagai group.

5. Terkadang kita dengan senang hati menambah ("add") friend, tapi
jangan lupa bahwa dengan menambah friend tersebut, berarti mereka
bisa melihat data-data pribadi kita (ini tidak ada di aplikasi
e-mail). Better Business Bureau di Amerika mengeluarkan warning
untuk ini.

6. Ternyata foto-foto kita menjadi milik Facebook untuk selamanya.

Mohon hati-hati!

Saya juga ingin memberikan berbagai saran untuk melakukan pengamanan
dalam memakai Facebook.

Berikut beberapa saran-saran saya:

1. Jangan terlalu detail memberikan informasi di bagian "INFO"
seperti tanggal lahir dengan lengkap (mungkin hilangkan tahunnya),
alamat yang sebenarnya tidak usah dicantumkan, lalu menikah dengan
siapa dll. Karena informasi ini bisa-bisa dipakai oleh seseorang
untuk, misalnya, mengkonfirmasi credit card Anda.

2. Hati-hati menulis di "WALL". Jangan menulis di wall hal-hal yang
sifatnya pribadi atau sensitif, karena tulisan Anda akan
di-broadcast ke seluruh teman-teman Anda dan akan menjadi permanen
terpampang di wall teman Anda tsb.
Gunakan fasilitas message (seperti e-mail) atau chat kalau ingin
berkomunikasi secara pribadi. Ibaratnya, menulis di Wall berarti
Anda sedang menulis di tembok pinggir jalan (semua orang akan
bisa baca).

3. Jangan sembarangan untuk join pada berbagai "CAUSES" karena akan
membuka teman-teman baru yang mungkin tidak Anda kenal secara dekat,
kecuali memang ini tujuan Anda.

4. Sewaktu menambah teman, harap hati-hati dalam mengkonfirmasi
('CONFIRM"). Re-check siapa yang merekomendasi atau siapa saja
teman-teman bersamanya (common friends).

5. Jangan terlalu banyak memakai fasilitas-fasilitas aplikasi
("APPLICATION") Facebook, karena kita bisa saja terkecoh mana yang
aplikasi Facebook resmi dan mana yang bukan (Spyware). Selain itu,
kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh software-software
aplikasi tersebut setelah mengambil data-data pribadi kita.

6. Upload foto-foto ("PHOTOS") yang kira-kira tidak akan mempunyai
dampak negatif di kemudian hari.

7. Download any spyware program (cari yang gratis saja) dan lakukan
sweeping secara rutin.

Anyway .. I still think Facebook is so much fun, but please take
some precaution.

Kamis, 07 Mei 2009

Buku Tabungan

Dari milist sebelah
"Perjalanan Hidup"

Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan.

Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000).

Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu.
Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya.
Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya.
Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar.
Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh.
Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."

Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai.

Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan. dalam buku itu.

Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 07 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 01 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2.000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni : Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ...
dan seterusnya ...

Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele.

Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta .... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.

Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi.
Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"

Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis.
Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."

Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu.

Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya.

Dia melihat, melihat, dan melihat.

Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya.

Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.

Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh,
dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.

Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya.

Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan:
"Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku."

Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.

Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun?

Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui
tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka.

* * * * *

"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi
lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "

= Hidup adalah memperbaiki kesalahan-kesalahan =

Sebuah Perenungan

Dari milist sebelah

"Mahalnya karier seorang Ibu.."


Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan
multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang
berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka
saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan
menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru
saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih
terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan
karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang
masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa
sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya
harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah
pembantu kami.

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak
Begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah
ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2
tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia
meninggal.

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku
hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di
rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama
sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang
keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin
lebih.

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan
urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun
sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba
saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti
bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu
terlalu kuno cara berpikirnya.
Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6
orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat
baik.

Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan
penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau
mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan
hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya
sekolah tinggi-tinggi? .

Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya
dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada
Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti
asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka,
toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan
dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu
cepat sebelum saya sempat tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini
selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan
kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia
ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka
akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi ,
setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal
dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari
rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore
untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk
stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya
kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu
kandungnya!
menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja
ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau
lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa
bik Inah.

Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas
sebagai
kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di
pesantren.

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia
paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum
bersama.

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya
itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat
merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat
dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin
Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya
cerita kalau lagi kesel di
sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur....... ...Ya Tuhan ,
Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya
sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat
tidak mungkin bisa kembali,

seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja
untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya
pemeran
utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi
sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran
darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang
beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup
dan tidak salah dalam memilihnya"
. Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk
menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena
itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi
inilah faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada
saya.

Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan
menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram
di sisiMu".

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.


Because I Mom